Jumat, 18 Agustus 2017

Sebuah Sajak yang Menyangkal Kemerdekaan

jika cinta adalah ego yang benci disalahkan
maka kelahiran adalah kesalahan pertama

aku melihat diriku
di antara nilai-nilai yang bertabrakan

aku melihat diriku
kepercayaan yang dipilihkan

aku melihat diriku
garis-garis yang dipaksakan

aku melihat diriku
cita-cita yang tak punya tempat

aku melihat diriku
dicintai tak pernah lebih dari ini

maka jika bayi-bayi dilahirkan
aku akan menangis

Selasa, 13 Juni 2017

Dehumanisasi Komoditas Karya Seni


Seni merupakan hasil kebudayaan yang mulai berkembang sejak awal peradaban manusia yaitu zaman berburu, terbukti dengan ditemukannya simbol-simbol sederhana pada dinding gua di berbagai wilayah Indonesia yang berasal dari lebih 40.000 tahun lalu. Temuan ini adalah bukti kemampuan manusia pada masa lalu dalam mengungkapkan ekspresinya, juga bentuk perwakilan untuk mengabadikan suatu kegiatan dalam bentuk “coretan”.

Aristoteles (384-322 SM) menjelaskan bahwa mengekspresikan sesuatu lewat seni berfungsi untuk menyalurkan afek psikologis individu sebagai media kontrol diri sehingga manusia dapat mengendalikan dampak lanjutan dari tekanan dalam diri. Bagi penikmat seni pun Arthur Schopenhauer (1788-1860) berpendapat bahwa seni membebaskan diri dari beban individualitas dengan memberikan kesan pembebasan, sebab memang merupakan tugas seni menjadi cermin jernih untuk menampakan idea yang hakiki dalam kehidupan ini.

Kamis, 25 Mei 2017

Istilah yang Dihapus dari Buku Filsafat

Duniaku sebatas kamar tidur dan perpustakaan di kepalaku
Juga hal-hal lain yang lebih banyak mengajariku untuk waspada

Aku kehilangan segala sesuatu yang bisa membuatku utuh
Semacam ketidakpercayaan yang belum memiliki nama
Atau istilah-istilah yang dihapus dari buku filsafat

Jumat, 19 Mei 2017

Sepasang Mata Pendongeng

Kau jendela dan padamu sepasang mata pendongeng
Diam dan mampu menjelaskan cita-cita juga kejatuhan manusia
Kebisuan yang bercerita banyak dan melindungi nuraniku
Batas antara angan-angan dan hal-hal yang belum mampu aku sentuh

Dari telingamu kudengar seorang ibu bernyanyi sendu
Teringat dua tahun lalu aku bertemu dengannya
Memungut sampah dari rumah-rumah dan jalan yang membenci kebersihan
Sesekali bernyanyi dan padaku ia ceritakan kisah dari masa lalu

Tentang rumah dan pekerjaan yang berubah lumpur panas dan liburan orang lain
Yang hanya menyisakan suara dan usia anak yang butuh sekolah
Aku membagikannya waktu dan sepiring makan malam
Ia memilih pulang dengan keringat yang masih basah dan sebungkus nasi yang masih utuh

Kamis, 11 Mei 2017

Rumah Masa Kecil

2000-2007

Halaman rumahku luas untuk bermain kelereng dan bulutangkis yang koknya terkadang menyangkut di atapnya yang seng. Ayam-ayam suka masuk ke dapur, kami tak memelihara ayam, tapi rumahku tak berpagar, begitu juga rumah tetanggaku. Dari jendela kamar ibu, aku suka mengintip jendela rumah temanku dan menebak-nebak adakah mereka di rumah. Kami sering bermain bersama, juga dalam mimpi tidurku, sebab bermain bersama adalah hal paling mewah pada masanya. Anak-anak seusia kami tak memiliki handphone, aku beberapa kali menelfon sahabatku lewat telfon rumah, menelfon adalah hal istimewa dan karenanya kini aku kenang. Aku suka menghafalkan 5 digit nomor telfon rumah sahabat-sahabatku.