Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Desember 2017

segala yang asin dan menjauh

perpisahan mengutuk tubuhmu jadi bayangan
mengikuti dan gagal kusentuh

fotomu adalah satu-satunya jendela
antara aku dan apa yang matamu ingin sampaikan
foto kita adalah satu-satunya tempat tanpa antara
dan aku ingin tertidur di sana

barang-barang siap pulang
menjauhkan kaki dan kehendak untuk tetap tinggal
hari-hari yang tidak mampu mengulang
membuat jarak antara telingaku dan bibirmu yang ingin berbisik

siang itu punggungku membawa roti, susu
dan sisa-sisa semua yang kita suka

mengapa kita duduk dan mendulang makanan yang lebih asin dari airmata?

Selasa, 13 Juni 2017

Dehumanisasi Komoditas Karya Seni


Seni merupakan hasil kebudayaan yang mulai berkembang sejak awal peradaban manusia yaitu zaman berburu, terbukti dengan ditemukannya simbol-simbol sederhana pada dinding gua di berbagai wilayah Indonesia yang berasal dari lebih 40.000 tahun lalu. Temuan ini adalah bukti kemampuan manusia pada masa lalu dalam mengungkapkan ekspresinya, juga bentuk perwakilan untuk mengabadikan suatu kegiatan dalam bentuk “coretan”.

Aristoteles (384-322 SM) menjelaskan bahwa mengekspresikan sesuatu lewat seni berfungsi untuk menyalurkan afek psikologis individu sebagai media kontrol diri sehingga manusia dapat mengendalikan dampak lanjutan dari tekanan dalam diri. Bagi penikmat seni pun Arthur Schopenhauer (1788-1860) berpendapat bahwa seni membebaskan diri dari beban individualitas dengan memberikan kesan pembebasan, sebab memang merupakan tugas seni menjadi cermin jernih untuk menampakan idea yang hakiki dalam kehidupan ini.

Kamis, 25 Mei 2017

Istilah yang Dihapus dari Buku Filsafat

Duniaku sebatas kamar tidur dan perpustakaan di kepalaku
Juga hal-hal lain yang lebih banyak mengajariku untuk waspada

Aku kehilangan segala sesuatu yang bisa membuatku utuh
Semacam ketidakpercayaan yang belum memiliki nama
Atau istilah-istilah yang dihapus dari buku filsafat

Jumat, 19 Mei 2017

Sepasang Mata Pendongeng

Kau jendela dan padamu sepasang mata pendongeng
Diam dan mampu menjelaskan cita-cita juga kejatuhan manusia
Kebisuan yang bercerita banyak dan melindungi nuraniku
Batas antara angan-angan dan hal-hal yang belum mampu aku sentuh

Dari telingamu kudengar seorang ibu bernyanyi sendu
Teringat dua tahun lalu aku bertemu dengannya
Memungut sampah dari rumah-rumah dan jalan yang membenci kebersihan
Sesekali bernyanyi dan padaku ia ceritakan kisah dari masa lalu

Tentang rumah dan pekerjaan yang berubah lumpur panas dan liburan orang lain
Yang hanya menyisakan suara dan usia anak yang butuh sekolah
Aku membagikannya waktu dan sepiring makan malam
Ia memilih pulang dengan keringat yang masih basah dan sebungkus nasi yang masih utuh

Kamis, 11 Mei 2017

Rumah Masa Kecil

2000-2007

Halaman rumahku luas untuk bermain kelereng dan bulutangkis yang koknya terkadang menyangkut di atapnya yang seng. Ayam-ayam suka masuk ke dapur, kami tak memelihara ayam, tapi rumahku tak berpagar, begitu juga rumah tetanggaku. Dari jendela kamar ibu, aku suka mengintip jendela rumah temanku dan menebak-nebak adakah mereka di rumah. Kami sering bermain bersama, juga dalam mimpi tidurku, sebab bermain bersama adalah hal paling mewah pada masanya. Anak-anak seusia kami tak memiliki handphone, aku beberapa kali menelfon sahabatku lewat telfon rumah, menelfon adalah hal istimewa dan karenanya kini aku kenang. Aku suka menghafalkan 5 digit nomor telfon rumah sahabat-sahabatku. 

Senin, 01 Mei 2017

Catatan Hari Buruh

Jika pagi kau menyusuri jalan-jalan perkotaan
Bisa kau dapati mereka yang bangun lebih awal
Yang berolahraga dengan sepeda dan pakaian lengkap
Juga yang berolahraga dengan caranya sendiri, menyapu jalan

Jika kau ingin telusuri kenyataan kehidupan masyarakat
Mereka hidup dibalik gedung
Dan kostum, yang membuat mereka menjadi sama
Dan terlihat baik-baik saja

Kau boleh telusuri kampung mereka
Deretan kumuh yang sering luput dari tata kota
Yang ketika hendak disentuh serangkaian rencana
Nyawa yang mampu berpikir hanya berubah menjadi angka-angka

Rabu, 26 April 2017

Isa dan Rumah Langit

Minggu sore selalu menyiapkan kisah manis dan romantis. Aku menunggu adik-adik datang dengan sisa tawa mereka yang ceria selepas bermain, atau cemberut wajah mereka  selepas kesal oleh perkara-perkara sederhana, atau tubuh lelah mereka selepas berdagang yang mungkin tidak laku. Apa yang terlihat dari anak kecil selalu jujur, murni, dan tidak perlu disalahkan. Aku menunggu mereka menghampiriku, mereka manis, suka memelukku, merebutkan perhatian dan minta pangku, sesekali berebutan minta dibacakan buku. 

Aku mencintai buku, dan senang ketika mampu membangun perpustakaan bagi orang lain. Bagiku, membuat perpustakaan adalah membangun jembatan, antara individu dan ilmu, antara masyarakat dan kesadaran kolektif, antara bangsa dan kemajuan peradaban. Meski hanya perpustakaan jalanan dengan buku terbatas beralas banner bekas. Aku juga mencintai kawan-kawan yang membangun jembatan bersama. Mereka bukan orang yang hanya suka berdebat agar terlihat pandai. Mereka sederhana dan ingin ilmu yang mereka miliki dapat bermanfaat untuk orang lain. Aku mencintai orang-orang sederhana, mereka yang tak butuh pengakuan untuk terus berbuat banyak. Mereka yang menguasai diri mereka sendiri adalah mereka yang menguasai kehidupan.

Nah, kini akan kuceritakan padamu satu kisah minggu sore.

Jumat, 07 April 2017

Penulis yang Menghapus Kata Kita

Kau sejarah yang ditulis orang-orang kalah
Sajak sang penyair yang dihapus namanya

Kau pecundang yang pernah berjuang
Kekalahan yang mampu menguras kesedihanku

Kau kenyataan yang tidak terbenarkan
Duri yang memilih memeluk diri sendiri

Dalam ketidakberdayaan menghadapi kuasa waktu
Kau penulis yang menghapus kata kita

Aku tokoh utama dalam cerita
Kau mencintaiku dan aku mencintai kesalahanmu

Senin, 03 April 2017

Mereka yang Tak Bisa Kau Tolak Kemarahannya

Aku pernah berada di kapal layar besar, terombang-ambing di tengah samudera. Cuaca buruk, gelombang besar, ombak ekstrim menyirami seluruh kapal. Aku berlari ke sebuah ruangan bersama orang-orang yang sempat berlari ke ruangan yang sama. Dari pintu yang tidak kututup rapat aku mengintip, bagaimana manusia menjerit ketika ombak menelan tubuh mereka.

Alam ini besar dalam artian sesungguhnya, mereka maha dasyat dan tak bisa kau tolak kemarahannya. Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku, mengingat permasalahan dalam hidup sendiri. Sungguh tiada arti permasalahan manusia ketika merawat dan menjaga bumi yang kita huni dianggap hanya milik para aktivis saja.

Aku bukan aktivis, tapi bencana alam tak mengenal siapa kita.

Di saat yang sama, ada nyanyian sakral, meneror sekaligus menumbuhkan rasa segan, nyanyian itu bergema di rasa dan pikirku yang sudah melebur

"ibu bumi wis maringi.. ibu bumi dilarani.. ibu bumi kang ngadili.."

Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku, lagi. Dengan perasaan haru aku teringat petani-petaniku, aku teringat nasi yang menjadi bagian dari tubuhku, aku teringat keiklasan mereka merawat bumi, aku teringat perjuangan mereka menjaga bumi, aku teringat tangis kekalahan mereka, esoknya mereka bangkit lagi, kalah lagi.

Bangkit lagi.

Aku teringat bagaimana mereka diperlakukan tidak adil

dan aku merindukan Tuhan.

Jumat, 24 Februari 2017

Diana


diana diana
mungkin umurmu sepuluh tahun

aku sering melihat anak seusiamu
bersama orangtua yang menyayangi anaknya
dan bersyukur pada Tuhan masih bisa memberi
sepatu hitam untuk sekolah
sepatu merah muda untuk jalan-jalan

ada juga anak yang menangis
minta dibelikan makanan
tapi tidak diberikan
karena sudah berlebihan berat badan
dan bisa menjadi penyakit

Minggu, 12 Februari 2017

Bermain Bola Bekel


Baru tadi pagi aku berkenalan dengan dua anak itu, kelas 1 dan 3 SD. Aku datang, mencoba berbaur ketika mereka sedang asik bermain bola bekel. Sebenarnya bukan "mereka", salah satu saja, yang 3 SD, sedang yang 1 SD hanya melihat di sebelahnya. Kaku betul tanganku, tak bisa bermain bekel, jadi minta diajari, pura-puranya begitu - aku hanya ingin bermain dengan mereka.

Yang kelas 1 tidak bermain, katanya tidak bisa. Matanya, adalah mataku yang dulu, perempuan kecil yang ragu, tak percaya pada diri sendiri, oranglain, barangkali pernah gagal dan kena olok. Anak kecil biasanya memang tidak mengerti, dan tidak terpikir untuk peduli apa itu harga diri, tapi aku dan anak itu barangkali lain lagi.

Minggu, 08 Januari 2017

Aku Menghormati Komunikasi Kita

aku menghormati komunikasi kita
ketika bahasa sering gagal menerjemahkan perasaan manusia
terlalu sedikit menawarkan "kata sifat"
melahirkan perdebatan-perdebatan yang tiada arti
menggeser pesan, tujuan dari bahasa itu sendiri

aku menghormati komunikasi kita
ketika bahasa mengajarkan terlalu banyak "lawan kata"
pahit-manis, hitam-putih, baik-jahat
konsumsi pendidikan dini
membesarkan dengan naif kaum moralis

aku menghargai komunikasi kita
bahasaku dan bahasamu
adalah aku yang tak malu menceritakan kesombonganku
dan kau yang tak ragu menceritakan kesimpulan baru
karena kau tahu kata sombong tak sesederhana hitam
dan aku tahu kesimpulan tak meminta hakim
namun rendah hati untuk segala mungkin

aku menghormati komunikasi kita
kata dan tatap mata sebagai gerbang ke jiwa
seolah di kehidupan tanpa bahasa 
kau pernah berjanji untuk mengerti
juga tak membunuh kepercayaan diri

Minggu, 11 Desember 2016

Tuhan, ke mana aku harus pergi?

pagi itu aku ke rumah ibadah
besar sekali, menampung ratusan orang banyak sekali
lampu-lampu dan panggung yang besar oh megah sekali

orang-orang di sini pastilah memilih penampilan terbaik
bersiap menghadap Tuhan dalam satu waktu yang istimewa
ada yang berbedak tebal, sanggulnya tinggi oh tinggi sekali

kota yang panas dan bau keringat
tapi suhu di sini bagus sekali
aku tidak gosong dan tidak suka mengomel
ACnya banyak oh dingin sekali

Selasa, 06 Desember 2016

Anak Ibu dan anak Ibu Pertiwi

ibuku yang manis dan mencintai anaknya yang bungsu
dua puluh tahun berlalu, di matanya aku masih seperti yang dulu

tidak, bukan gambaran tentang aku yang pernah mengores luka di hati ibu
meski luka itu tak kunjung sembuh
yang karena cinta dan hanya karena cinta
ibu lebih tenang menyimpan luka sendirian
berharap doa bisa menghapusnya
ibu tak suka aku tenggelam dalam ingatan
meski ingatan itu tentang rasa bersalahku padanya

ya, di matanya aku masih seperti yang dulu
gadis kecil yang lucu dan pemalu
manja dan penakut
tapi menawan hati
misalnya pada usia empat
aku mampu menghafal Pancasila dengan bahasaku sendiri
aku pernah membuat ibu tertawa

aku lupa kapan terakhir membuat ibu tertawa

Jumat, 02 Desember 2016

Pacar Seorang Seniman

barangkali kita sering bertemu
sebelum satu waktu pernah memaksaku menyadari kehadiranmu
ketika itu aku berada di antara puluhan orang yang terpaksa menunggu
mereka memasang telinga sambil memangku diri
berharap kelak mendapatkan keuntungan pribadi

kamu berada di depan menjadi anomali
juga bersama beberapa orang yang suaranya cepat kulupakan
mungkin karena orang-orang itu lebih suka membicarakan hal yang tidak perlu
selama itu ringan dan mudah ditelan oleh mereka yang lugu dan kebanyakan begitu
menjadi sulit menyadari sesuatu yang keliru

tak pernah kudapati orang-orang itu merasa bersalah
karena memang tak pernah benar-benar bersalah
kecuali di mataku, manusia yang angkuh
bosan bertemu mereka yang hanya mencintai diri sendiri
bahkan ketika ada kesempatan, mereka suka mengajarkan itu pada orang lain

Kamis, 10 November 2016

Generasi yang terburu-buru menyimpulkan

Ketika seseorang melakukan keburukan, di"percuma-percumakan" dengan kebaikannya. Ketika seseorang melakukan kebaikan, di"padahal-padahal belum"kan sama keburukannya, kekurangannya, sekecil-kecilnya.

Generasi yang terburu-buru menyimpulkan.

Aku pikir, sederhana sekali pemikiran mereka. Hanya mampu memandang kompleksivitas kehidupan dengan hitam putih. Doktrin mana yang mereka telan? Sinis terhadap keburukan, sinis pula terhadap kebaikan. Bagi mereka, orang yang "setengah-setengah" adalah munafik sementara "orang-orang munafik" itu terus berusaha memerangi diri sendiri agar mampu melakukan kebaikan-kebaikan.


Barangkali mereka memang merasa lebih aman dengan tidak melakukan apa-apa selain berkomentar.

Rabu, 12 Oktober 2016

Nostalgia

bernostalgia membaca masa lalu
sambil malu-malu menemui diriku yang dulu
waktu berisi tentang kamu hingga benalu
sungguh kejujuran kata-kata yang tak pernah laku

kututup blogku yang dulu
namun lahir baru dirasa perlu